my little sister “ocha”

Delapan tahun sudah berlalu. Tak terasa sibungsu adik kecilku yang dulu sering aku mandikan, aku ganti popoknya, aku ajak jalan-jalan sudah duduk dikelas 2 sekolah dasar (read : sekolah islam terpadu). Sibungsu adik kecilku yang begitu tampak  lucu dan  polos dengan kerudung  dan baju seragam muslim panjang yang selalu dia kenakan ketika mau berangkat sekolah.  Si Bungsu adik kecilku itu bernama Moza. Dia adikku yang paling kecil dengan selisih umur antara aku dan dia lumayan jauh lebih kurang 17 tahun. Dulu aku kira aku bakal jadi anak  terakhir dari keluarga kami, tapi ternyata si “kiting” begitu panggilan kesayangan kami kepada Moza hadir melengkapi kebahagiaan keluarga kecil ini.

Pada awalnya aku begitu tidak terima kalau aku bakal punya adek kecil lagi. Waktu itu aku sedang  duduk dibangku SMA kelas dua.  Yang ada dipikirku saat itu karena cuma rasa malu. Malu kalau punya adik lagi padahal aku dan kakak-kakakku sudah begitu besar. Selain itu juga aku sangat khawatir dengan keadaan mamaku yang pada saat itu sudah menginjak umur 44 tahun karena aku tahu kalau wanita hamil diatas umur 40 tahun mempunyai resiko yang sangat tinggi terhadap kesehatan ibunya.

Terhadap penolakanku ini dulunya aku sempat bersikap ekstrim. Kalau mama minta tolong diantar ke dokter untuk check-up rutin aku sering menolak dengan beribu alasan kegiatan sekolah. Semua sampai sebegitunya cuma karena alesan aku malu, sudah segede gini masa punya adek kecil lagi. Astaghfirullah..maafkan aku ma, maafkan ayuk ica dek, kalau ingat waktu itu perasaan sangat bersalah menyelimuti hati.  Tapi lambat laun perasaan penolakanku ini mulai luluh juga. Ini terjadi karena ternyata ayukku (read : kakak perempuan) yang tertua ayuk leni namanya bersikap sangat bertolak belakang dengan dinginnya sikapku. Ayuk leni sangat antusias menyambut adek kecil kami, ayuk sangat antusias menemani mama membelikan perlengkapan adik bayi kami nanti. Aku coba beranikan diri untuk menanyakan langsung ke ayukku dengan perubahan sikapnya yang begitu antusias padahal sebelumnya juga sempat sama keberatannya denganku.  Ayukku menjawab dengan bijak “kenapa kita harus malu, memang ini suatu kesalahan ??, ini suatu anugerah. Allah masih percaya, masih memberikan amanah buat keluarga kita menjaga dan merawat adik kecil ini . ”  Aku tersadar,  berarti selama ini aku salah, aku menyadari kalau hadirnya adik kecilku dikeluarga kami merupakan anugerah Allah yang tak ternilai harganya.

Maafkan ayuk sayang… kalau ingat sikap ayuk dulu, ayuk sangat menyesal. Melihat dirimu yang tumbuh besar, begitu lucu, menambah keceriaan seisi rumah dengan tingkah laku kepolosanmu begitu lengkap kebahagiaan keluarga kita ini. Apalagi disaat sekarang kakak atau ayuk harus meninggalkan mama dan bapak demi untuk mencapai cita-cita ternyata kamu telah menjadi penghibur kesedihan mama dan bapak, penghilang rasa sepi mereka dan telah menjaga kedua orang tua kita.

Sekarang tak terasa umurmu sudah delapan tahun adekku sayang. Selamat ulang tahun yah cantik…. Semoga barokah umurnya, jadi anak yang soleha, kebanggaan mama, bapak dan kakaknya . Cepat besar tetep jadi anak yang manis, pintar  dan baik yah…

About helenaapriza

Always try to be a good Moslem Always try to be the best Always try to be my self Always try to be useful for every one Never stop to study View all posts by helenaapriza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: